Prabowo Minta Buku Indonesia Dibandingkan dengan Negara ASEAN
Prasetyo menjelaskan bahwa pemerintah diminta mempelajari buku pelajaran mulai jenjang SD hingga SMA dan membandingkannya dengan buku dari sejumlah negara sahabat, khususnya negara-negara ASEAN.
Negara yang menjadi bahan perbandingan antara lain Thailand, Malaysia, Brunei Darussalam, Timor-Leste, Kamboja, Vietnam, dan Singapura.
“Petunjuk dari Bapak Presiden, kita diminta mempelajari buku-buku pelajaran sekolah mulai dari SD, SMP, dan SMA. Kemudian, Beliau meminta agar kita membandingkannya dengan buku-buku dari beberapa negara sahabat, misalnya Thailand, Malaysia, Brunei Darussalam, Timor-Leste, Kamboja, Vietnam, dan Singapura, khususnya negara-negara ASEAN,” jelas Prasetyo, Jumat (7/8/2026).
Menurut Prasetyo, peningkatan kualitas pendidikan tidak hanya dilakukan melalui pembangunan infrastruktur, tetapi juga dengan memperbaiki kualitas materi pembelajaran yang digunakan peserta didik.
Tiga Aspek Buku Ajar Jadi Perhatian
Dalam upaya meningkatkan kualitas buku ajar, Prasetyo menyampaikan terdapat tiga arahan utama yang diberikan Presiden Prabowo.
Pertama, buku ajar harus mampu menanamkan nilai-nilai nasionalisme dan kebangsaan. Kedua, pemerintah diminta meningkatkan kualitas buku ajar matematika. Ketiga, peningkatan juga diarahkan pada kualitas buku ajar bahasa Inggris.
Menurut Prasetyo, ketiga aspek tersebut perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik peserta didik di Indonesia.
“Contohnya, kemampuan berbahasa Inggris. Di antara beberapa negara yang memang kesehariannya menggunakan bahasa Inggris. Dengan kita yang kesehariannya belum menggunakan bahasa Inggris, tentu bentuk maupun isi materi bukunya berbeda,” jelasnya.
Pemerintah Siapkan Tim Gabungan
Sebagai tindak lanjut arahan tersebut, pemerintah akan membentuk tim gabungan untuk melakukan kajian komparatif sekaligus menyusun langkah peningkatan kualitas buku ajar di Indonesia.
Tim tersebut akan melibatkan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Setelah kajian selesai, pemerintah tidak hanya akan menerbitkan buku ajar dalam bentuk fisik. Buku tersebut juga direncanakan tersedia dalam bentuk digital yang dapat diunduh dan terintegrasi dengan Papan Interaktif Digital (PID).
“Intinya, kita ingin memperbaiki kualitas buku ajar bagi seluruh peserta didik mulai dari SD, SMP, hingga SMA,” tambah Prasetyo.
Prabowo Temukan Buku Pelajaran Rusak
Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengatakan arahan untuk membandingkan buku ajar Indonesia dengan negara lain merupakan tindak lanjut dari kunjungan Prabowo ke sejumlah sekolah pada tahun sebelumnya.
Dalam kunjungan tersebut, Prabowo disebut menemukan sejumlah buku pelajaran dalam kondisi rusak. Selain itu, ukuran huruf pada beberapa buku dinilai terlalu kecil sehingga menyulitkan siswa untuk membaca dari jarak dekat.
“Sehingga atas dasar itu, beliau cek buku pelajaran dari SD hingga SMA. Bapak Presiden cek satu per satu, setelah itu beliau meminta agar buku-buku tersebut dibandingkan dengan buku dari negara-negara tetangga,” jelas Teddy.
Langkah tersebut kemudian menjadi dasar bagi pemerintah untuk melakukan kajian perbandingan terhadap buku ajar Indonesia dengan buku yang digunakan di sejumlah negara lain sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas pembelajaran.
Catatan Redaksi: Inti Fakta Nusantara menjunjung tinggi asas praduga tak bersalah serta melayani hak jawab dan hak koreksi sesuai Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.
Penulis: Suroyo
Editor: Han

