Prabowo Sebut Kesulitan Membentuk Karakter Pemimpin
Dalam kesempatan tersebut, Prabowo menilai pengalaman menghadapi kondisi sulit, hambatan, dan penderitaan menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter seorang pemimpin.
“Saudara-saudara, kepemimpinan tidak bisa diberi sebagai hadiah. Kepemimpinan itu didapatkan melalui kerja keras, melalui sikap, melalui nilai-nilai yang ada dalam seorang,” ujar Prabowo.
Menurutnya, seseorang yang tidak pernah menghadapi kesulitan dan penderitaan akan lebih sulit membangun karakter kepemimpinan. Hambatan dan rintangan justru dinilai dapat menjadi proses yang membesarkan seorang pemimpin.
“Kondisi yang memberatkan, kondisi rintangan, kondisi hambatan, justru kondisi-kondisi ini yang membesarkan seorang pemimpin. Hampir bisa dikatakan, orang yang tidak menghadapi hambatan, tidak menghadapi kesulitan, tidak mengalami penderitaan, hampir bisa dikatakan ndak jadi pemimpin. Itu kenyataan,” tegasnya.
Keberanian Harus Disertai Kebajikan
Selain pengalaman menghadapi kesulitan, Prabowo menyebut keberanian sebagai salah satu syarat yang harus dimiliki seorang pemimpin. Namun, menurutnya, keberanian tidak cukup jika tidak dibarengi nilai kebaikan, kebajikan, dan empati.
“Keberanian syarat jadi pemimpin. Tapi keberanian harus juga ditopang oleh nilai kebaikan, nilai kebajikan, nilai-nilai empati,” kata Prabowo.
Ia mengingatkan bahwa keberanian tanpa kebijaksanaan dapat membuat seorang pemimpin mengambil keputusan yang tidak hati-hati dan pada akhirnya berpotensi membahayakan orang-orang yang dipimpinnya.
“Berani tanpa kebajikan akan muncul sebagai pemimpin, tapi mungkin pemimpin yang tidak hati-hati, pemimpin yang tidak arif, pemimpin yang ujungnya membahayakan yang dipimpin,” tambahnya.
Pengalaman Memimpin Pasukan Jadi Pelajaran
Prabowo kemudian menceritakan pengalamannya ketika pernah memimpin pasukan khusus TNI Angkatan Darat (AD). Menurutnya, pengalaman tersebut membentuk kemampuan untuk membaca karakter seseorang melalui interaksi singkat.
Ia mengatakan pengalaman sejak muda dalam memimpin dan berinteraksi dengan banyak orang membuat dirinya dapat menangkap berbagai hal dari cara seseorang berbicara, memberikan tanggapan, maupun berinteraksi.
“Dari muda kita sudah berhadapan dengan 30 orang, pertama kali itu. Bahkan di Akademi kita sudah berurusan dengan orang, jadi kita sudah bisa lihat. Kita bisa menangkap apakah itu dikatakan getaran, apa dikatakan insting, mungkin bahasa Inggrisnya vibes atau chemistry. Dan kita bisa menilai dari dua-tiga kalimat, dari pembicaraan, dari tanggapan,” tuturnya.
Generasi Muda Diminta Siap Hadapi Persaingan
Berangkat dari pengalaman tersebut, Prabowo mengingatkan pentingnya mempersiapkan generasi penerus Indonesia agar memiliki ketangguhan dalam menghadapi persaingan antarbangsa yang dinilainya semakin keras.
Ia mempertanyakan apakah generasi penerus Indonesia akan memiliki kekuatan untuk menghadapi tantangan tersebut atau justru mudah menyerah dan mengeluh ketika menghadapi kesulitan.
“Apakah generasi-generasi penerus kita sekarang ini nanti kuat menghadapi persaingan antarbangsa yang semakin keras? Atau mudah menyerah, mudah mengeluh, mudah minta bantuan?”
Pernyataan tersebut menjadi penekanan Prabowo mengenai pentingnya membangun karakter generasi penerus yang tangguh, berani, serta memiliki nilai kebajikan dalam menghadapi berbagai tantangan.
Catatan Redaksi: Inti Fakta Nusantara menjunjung tinggi asas praduga tak bersalah serta melayani hak jawab dan hak koreksi sesuai Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.
Penulis: Suroyo
Editor: Han

