Ketua II PC PMII Surabaya Abdul Azis menyoroti arah gerakan PKC PMII Jawa Timur dalam momentum May Day 2026.
Surabaya, Inti Fakta Nusantara — Ketua II PC PMII Surabaya, Abdul Azis, menyoroti absennya PKC PMII Jawa Timur dalam momentum perjuangan Hari Buruh Internasional (May Day) yang berlangsung di berbagai daerah di Jawa Timur.
Menurutnya, momentum May Day seharusnya menjadi ruang keberpihakan organisasi pergerakan terhadap isu kesejahteraan buruh dan masyarakat pekerja di tengah berbagai persoalan ketenagakerjaan yang masih dihadapi masyarakat saat ini.
Azis menilai organisasi kader seperti PMII semestinya hadir dalam ruang-ruang advokasi sosial dan membersamai perjuangan masyarakat marginal, bukan justru menjauh dari isu-isu kerakyatan.
Ia menyayangkan sikap sebagian elit gerakan yang dinilai lebih sibuk mendampingi agenda kekuasaan dibanding memperkuat konsolidasi gerakan sosial bersama rakyat.
“May Day bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum untuk menegaskan keberpihakan gerakan terhadap kaum buruh dan kelompok masyarakat tertindas. PMII tidak boleh kehilangan sensitivitas sosial dan orientasi perjuangannya,” ujar Abdul Azis.
Singgung Kedekatan dengan Kekuasaan
Abdul Azis juga menyinggung keterlibatan Ketua Umum PKC PMII Jawa Timur dalam agenda misi dagang ke Malaysia bersama Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
Menurutnya, agenda tersebut dinilai tidak memiliki urgensi langsung terhadap kepentingan masyarakat pekerja dan kelompok marginal.
“Kedekatan organisasi gerakan dengan kekuasaan tidak boleh menghilangkan fungsi kontrol sosial serta keberpihakan terhadap persoalan rakyat kecil,” tegasnya.
Refleksi Gerakan Mahasiswa
Lebih lanjut, Abdul Azis menilai PKC PMII Jawa Timur belakangan semakin jarang terlihat dalam berbagai agenda gerakan yang berkaitan langsung dengan persoalan masyarakat.
Mulai dari isu kesejahteraan buruh, problem pendidikan, hingga ketimpangan sosial dan kebijakan publik dinilai belum mendapatkan pengawalan serius dari organisasi tingkat provinsi tersebut.
Menurutnya, kondisi itu menjadi refleksi penting bagi gerakan mahasiswa agar tidak kehilangan orientasi historis sebagai kekuatan moral, intelektual, dan sosial yang berpihak kepada rakyat.
“Gerakan mahasiswa lahir dari keresahan sosial masyarakat. Ketika organisasi mulai absen dalam isu-isu rakyat, maka yang dipertaruhkan bukan hanya eksistensi gerakan, tetapi juga legitimasi moral organisasi di hadapan masyarakat,” pungkasnya.
Catatan Redaksi: Inti Fakta Nusantara menjunjung asas praduga tak bersalah serta melayani hak jawab dan hak koreksi sesuai Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.
Penulis: Suroyo
Editor: Han
