Sampang, Jawa Timur, Inti Fakta Nusantara — Pekik merdeka dan derap langkah 374 regu pelajar yang memadati kawasan depan Pendopo Trunojoyo Bupati Sampang pada Selasa (11–12 Agustus 2026) menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Namun, di balik kemeriahan tersebut, muncul sorotan mengenai cara pemerintah daerah mengelola ruang kompetisi antarsekolah serta keterlibatan masyarakat umum dalam perayaan kemerdekaan tahun ini.
Perhatian tersebut terutama tertuju pada keputusan Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar) Sampang yang membagi kategori pemenang gerak jalan ke dalam tiga zona, yakni Kota, Pinggiran, dan Pedesaan.

Momen dimulainya lomba gerak jalan dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kabupaten Sampang.
Zonasi Disebut untuk Mendorong Keadilan
Kepala Disporabudpar Sampang, H. Marnilem, menyebut pembagian kategori berdasarkan zona tersebut sebagai upaya mendorong keadilan bagi sekolah yang berada di wilayah pelosok.
Dari perspektif penyelenggara, zonasi dapat dipahami sebagai cara untuk memberikan ruang kompetisi yang lebih proporsional kepada peserta dari wilayah dengan kondisi dan karakteristik yang berbeda.
Namun, kebijakan tersebut juga membuka pertanyaan yang lebih mendasar: apakah perbedaan antara sekolah kota, pinggiran, dan pedesaan cukup diselesaikan melalui pengelompokan lomba, atau justru menunjukkan adanya pekerjaan rumah yang lebih besar dalam pemerataan kualitas pendidikan?
Jika disparitas fasilitas, akses, sumber daya manusia, dan kualitas pembinaan memang masih menjadi persoalan, maka zonasi kompetisi hanya menyelesaikan persoalan pada arena perlombaan. Persoalan pemerataan pendidikan tetap membutuhkan kebijakan yang lebih substantif dan berkelanjutan.
Di titik inilah kebijakan tersebut layak dibaca secara kritis. Bukan semata-mata sebagai persoalan pembagian piala, melainkan sebagai cermin bagaimana pemerintah daerah melihat kesenjangan antarsatuan pendidikan.
Ketika Masyarakat Umum Tidak Lagi Masuk Arena
Sorotan lainnya muncul dari keputusan meniadakan kategori Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan masyarakat umum dalam pelaksanaan gerak jalan tahun ini.
Alasan keterbatasan anggaran disebut menjadi salah satu pertimbangan penyelenggaraan kegiatan. Kebijakan tersebut secara administratif dapat dipahami dalam konteks efisiensi, tetapi pada saat yang sama memunculkan pertanyaan mengenai ruang partisipasi masyarakat dalam perayaan hari kemerdekaan.

Pejabat, aparat, panitia, dan tamu undangan mengikuti kegiatan pembukaan lomba gerak jalan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kabupaten Sampang.
Gerak jalan selama ini tidak sekadar menjadi perlombaan. Bagi sebagian masyarakat, kegiatan tersebut merupakan ruang berkumpul, berekspresi, menunjukkan kreativitas, sekaligus merawat semangat kebersamaan dalam momentum kemerdekaan.
Karena itu, ketika kategori masyarakat umum ditiadakan, muncul pertanyaan apakah efisiensi anggaran harus selalu berujung pada pengurangan ruang partisipasi publik.
Persoalannya bukan sekadar berapa besar anggaran yang tersedia, tetapi bagaimana pemerintah menentukan prioritas agar efisiensi tetap berjalan tanpa menghilangkan semangat inklusivitas dalam perayaan kemerdekaan.
Narasi Nasionalisme Perlu Dibarengi Kebijakan Nyata
Di atas panggung pelepasan, Wakil Bupati Sampang H. Akhmad Mahfudz menyampaikan pesan mengenai persatuan, kedisiplinan, dan perjuangan para pahlawan.
Pesan tersebut tentu menjadi bagian penting dalam membangun semangat nasionalisme. Namun, narasi nasionalisme akan jauh lebih bermakna apabila diterjemahkan ke dalam kebijakan yang dapat dirasakan masyarakat secara nyata.
Dalam konteks Sampang, dua isu yang muncul dari pelaksanaan gerak jalan tersebut layak menjadi bahan evaluasi: pemerataan kualitas pendidikan dan keberlanjutan ruang partisipasi publik dalam kegiatan daerah.
Jika sekolah di wilayah berbeda memiliki kemampuan dan fasilitas yang berbeda, maka pemerintah daerah perlu memastikan kebijakan pendidikan secara bertahap memperkecil kesenjangan tersebut, bukan sekadar menyesuaikan format kompetisinya.
Begitu pula dengan kegiatan kemerdekaan. Efisiensi anggaran memang penting, tetapi desain kegiatan tetap dapat diarahkan agar masyarakat memiliki ruang partisipasi yang proporsional tanpa membebani keuangan daerah.
Jangan Sampai Piala Menjadi Penutup Persoalan
Pembagian piala berdasarkan zona pada akhirnya bukan persoalan utama. Yang lebih penting adalah apakah kebijakan tersebut menjadi bagian dari strategi pemerataan atau hanya menjadi solusi praktis untuk mengakomodasi perbedaan kemampuan antarsekolah.
Jika pemerintah benar-benar ingin menjadikan HUT RI sebagai momentum pendidikan nasionalisme, maka semangat itu semestinya hadir bukan hanya dalam derap langkah peserta, tetapi juga dalam kebijakan yang membuka kesempatan seluas-luasnya bagi masyarakat.
Perayaan kemerdekaan seharusnya menjadi ruang bersama. Sekolah, OPD, organisasi masyarakat, pemuda, dan masyarakat umum idealnya memiliki kesempatan untuk mengambil bagian sesuai kemampuan dan mekanisme yang dapat dipertanggungjawabkan.
Di sisi lain, kritik terhadap penyelenggaraan kegiatan juga semestinya tidak berhenti pada persoalan seremonial. Momentum HUT RI dapat menjadi kesempatan bagi Pemerintah Kabupaten Sampang untuk mengevaluasi kembali persoalan pemerataan pendidikan dan model partisipasi publik dalam kegiatan daerah.
Sebab, kemerdekaan tidak hanya dirayakan melalui pekik dan derap langkah. Kemerdekaan juga seharusnya tercermin dalam kesempatan yang lebih setara, ruang partisipasi yang terbuka, serta kebijakan pemerintah yang benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.
Selama persoalan pemerataan pendidikan dan partisipasi publik belum mendapatkan jawaban yang memadai, kemeriahan seremonial HUT RI akan selalu menyisakan pertanyaan yang lebih besar: apakah kita sedang merayakan kemerdekaan, atau sekadar merayakan seremoni kemerdekaan?
Catatan Redaksi: Inti Fakta Nusantara menjunjung tinggi asas praduga tak bersalah serta melayani hak jawab dan hak koreksi sesuai Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.
Penulis: Iyan
Editor: Han

